Pelemahan IHSG turut diwarnai aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp578,3 miliar di seluruh pasar. Dari sisi volume perdagangan, investor asing mencatatkan penjualan bersih sebanyak 1,31 miliar lembar saham.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih menghadapi tekanan pada paruh pertama perdagangan. Sejumlah saham berkapitalisasi besar mengalami penurunan, sementara penguatan beberapa sektor belum mampu membawa IHSG kembali ke zona positif.
IHSG Turun Setelah Bergerak di Rentang 5.338–5.418
Pada awal perdagangan, IHSG bergerak secara fluktuatif dengan rentang pergerakan antara level terendah 5.338,04 dan level tertinggi 5.418,14.
Namun, tekanan jual yang muncul selama sesi pertama membuat indeks berakhir di level 5.355,65. Dengan demikian, IHSG mencatatkan penurunan sebesar 0,32% dibandingkan level sebelumnya.
Aktivitas perdagangan saham pada sesi pertama terpantau cukup besar. Total nilai transaksi di pasar saham Indonesia mencapai Rp5,68 triliun, dengan volume perdagangan sebanyak 15,92 miliar lembar saham.
Pelemahan indeks terjadi ketika sebagian besar indeks sektoral bergerak di zona merah. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan IHSG, meskipun masih terdapat beberapa sektor yang berhasil mencatatkan kenaikan.
Sektor Infrastruktur dan Teknologi Catat Penurunan Terbesar
Salah satu faktor yang mewarnai pelemahan IHSG adalah turunnya mayoritas sektor saham. Sektor infrastruktur menjadi sektor yang mengalami penurunan sebesar 1,24%, sedangkan sektor teknologi melemah 1,2%.
Penurunan kedua sektor tersebut mencerminkan tekanan yang terjadi pada sejumlah kelompok saham selama perdagangan sesi pertama.
Di tengah pelemahan mayoritas sektor, sektor industri justru bergerak menguat sebesar 1,37%. Sektor barang baku juga mencatatkan kenaikan sebesar 0,36%.
Meski demikian, penguatan sektor industri dan barang baku belum mampu mengimbangi penurunan pada sektor lainnya. Akibatnya, IHSG tetap berada di zona merah hingga berakhirnya sesi pertama perdagangan.
Saham DCII dan BMRI Jadi Pemberat IHSG
Pelemahan IHSG juga dipengaruhi oleh penurunan harga sejumlah saham individual. Dua saham yang menjadi pemberat indeks pada sesi pertama adalah PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Saham DCII tercatat turun 2,76%. Penurunan tersebut memberikan kontribusi negatif sebesar 5,08 poin terhadap IHSG.
Sementara itu, saham BMRI melemah 1,53% dan memangkas 4,78 poin indeks. Penurunan saham Bank Mandiri tersebut turut menambah tekanan terhadap pergerakan IHSG.
Kedua saham tersebut menjadi perhatian dalam perdagangan sesi pertama karena kontribusi negatifnya terhadap indeks. Di saat yang sama, tekanan jual pada saham lain membuat penguatan sejumlah sektor belum cukup untuk menopang IHSG.
Investor Asing Jual Bersih Saham Rp578,3 Miliar
Ketika IHSG turun, investor asing tercatat membukukan penjualan bersih atau net foreign sell sebesar Rp578,3 miliar di seluruh pasar.
Penjualan bersih terjadi ketika nilai saham yang dijual investor lebih besar dibandingkan nilai saham yang dibeli dalam periode perdagangan yang sama.
Selain berdasarkan nilai transaksi, investor asing juga mencatatkan penjualan bersih berdasarkan volume sebanyak 1,31 miliar lembar saham.
Arus transaksi asing menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pelaku pasar untuk melihat dinamika perdagangan saham. Meski begitu, pergerakan IHSG tidak hanya ditentukan oleh transaksi investor asing, tetapi juga dipengaruhi aktivitas investor domestik dan perubahan harga saham berbagai emiten.
Daftar 5 Saham dengan Net Foreign Buy Terbesar
Di tengah dominasi penjualan bersih asing, sejumlah saham masih mencatatkan pembelian bersih pada perdagangan sesi pertama Selasa (27/10).
PT Timah Tbk (TINS) berada di posisi teratas dalam daftar lima saham dengan nilai net foreign buy terbesar. Berikut rinciannya:
- TINS – PT Timah Tbk: Rp19,02 miliar.
- ADRO – PT Alamtri Resources Indonesia Tbk: Rp14,97 miliar.
- ASII – PT Astra International Tbk: Rp12,84 miliar.
- WIFI – PT Solusi Sinergi Digital Tbk: Rp10,74 miliar.
- JSMR – PT Jasa Marga (Persero) Tbk: Rp7,47 miliar.
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa masih terdapat saham-saham yang mencatatkan pembelian bersih asing meskipun secara keseluruhan transaksi investor asing di pasar domestik didominasi penjualan.
Namun, masuknya suatu saham ke dalam daftar net foreign buy tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa harga saham tersebut akan terus meningkat. Pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada kondisi pasar dan aktivitas perdagangan.
BMRI Paling Banyak Dijual Investor Asing
Di sisi lain, saham BMRI menjadi saham dengan nilai penjualan bersih asing terbesar pada sesi pertama. Nilai net foreign sell saham Bank Mandiri mencapai Rp153,43 miliar.
Berikut daftar lima saham dengan penjualan bersih asing terbesar pada perdagangan sesi pertama:
- BMRI – PT Bank Mandiri (Persero) Tbk: Rp153,43 miliar.
- BRIS – PT Bank Syariah Indonesia Tbk: Rp71,72 miliar.
- BBCA – PT Bank Central Asia Tbk: Rp65,4 miliar.
- TLKM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk: Rp55,41 miliar.
- TPIA – PT Chandra Asri Pacific Tbk: Rp46,36 miliar.
Setelah BMRI, saham BRIS mencatatkan penjualan bersih asing sebesar Rp71,72 miliar. Posisi berikutnya ditempati BBCA dengan Rp65,4 miliar, TLKM sebesar Rp55,41 miliar, dan TPIA sebesar Rp46,36 miliar.
Besarnya penjualan bersih asing pada BMRI sejalan dengan penurunan harga saham tersebut yang turut memberikan tekanan terhadap IHSG pada sesi pertama.
IHSG Turun, Pasar Saham Masih Dibayangi Tekanan Jual
Secara keseluruhan, IHSG turun 0,32% ke level 5.355,65 pada perdagangan sesi pertama Selasa (27/10). Pelemahan tersebut berlangsung di tengah penurunan mayoritas sektor saham dan penjualan bersih investor asing yang mencapai Rp578,3 miliar.
Saham DCII dan BMRI menjadi pemberat indeks, sementara sektor infrastruktur dan teknologi mencatatkan penurunan masing-masing sebesar 1,24% dan 1,2%.
Di sisi lain, sektor industri dan barang baku masih mampu menguat. Sejumlah saham seperti TINS, ADRO, ASII, WIFI, dan JSMR juga mencatatkan pembelian bersih asing.
Perkembangan tersebut menjadi gambaran kondisi pasar saham hingga sesi pertama. Pergerakan IHSG pada sesi selanjutnya masih akan dipengaruhi dinamika transaksi, perubahan harga saham unggulan, serta aktivitas beli dan jual investor di Bursa Efek Indonesia.
Catatan: Data dalam berita ini mengacu pada informasi perdagangan sesi pertama yang diberikan dalam naskah sumber. Angka tersebut bukan data penutupan IHSG sepanjang hari.
